Pages

Subscribe:

Jumat, 06 Januari 2012

Faktor internal dan eksternal


Faktor internal dan eksternal
Yang menyebabkan lahirnya ilmu tauhid
Menurut Toshihiko Izutsu

Struktur  Esensial Konsep Kepercayaan
A.    Murji’ah
Sering dibicarakan bahwa Murji’ah dalam kaitannya dengan masalah pendosa besar. Dimana orang yang memiliki dosa besar masih dianggap muslim dan masih diberi kesempatan untuk menebus dosanya atau masih mendapatkan ampunan dari Tuhan. Murji’ah mengambil sikap non-komitmen, yakni ‘menangguhkan keputusan’ terhadap pertanyaan apakah seorang itu sebagai seorang percaya-muslim atau seorang kafir[1]. Secara historis, menangguhkan merupakan makna dari kata irja’ dan dari kata tersebut diperoleh nama Murji’ah (orang-orang irja’). Konsep irja’  dipandang sebagai bersifat politik daripada hanya teologik.
Dalam konsep irja’ yang berkembang, bahwa irja’ tidak lagi bermakna ‘menangguhkan atau menunda keputusan’ yang menunjukkan sikap politik yang netral, tetapi maknanya menjadi ‘perbuatan di balik keyakinan’, yaitu bahwa perbuatan amal dianggap sebagai bersignifikansi sekunder apabila dikaitkan dengan iman. Dan yang harus kita ingat adalah hubungan antara iman dan amal tidak hanya bersangkutan dengan teolog Murji’ah tetapi juga pengertian dari iman itu sendiri.
Sebenarnya masalah iman (kepercayaan) merupakan kontribusi Murji’ah yang paling nyata dalam perkembangan teologi muslim. Hal ini diakui oleh para pemikir muslim itu sendiri, meski hamper semua dari mereka banyak yang terlibat dalam menyerang dengan keras Murji’ah karena telah meremehkan makna ‘perbuatan baik’ dan bahkan sama sekali mengeluarkan dari konsep keimanan. Akan tetapi terdapat fakta bahwa Murji’ah merupakan yang pertama dari orang-orang muslim yang membahas serius masalah struktur batin iman sebagai suatu konsep teologik.

B.     Struktur Esensial Iman

Oyek                                                   subyek











 
                                Percaya dalam hati
                               
                                   
                                 Pengakuan verbal


 


                                 Perbuatan nyata

            Konsep keimanan yakni pengakuan lisan dan perbuatan lahir di sini dijadikan dua acuan tambahan terhadap struktur utama yang meliputi subyek, obyek, kepercayaan-batin, agar diagram tersebut sesuai dengan pendirian Murji’ah. Konsep kepercayaan atau keyakinan selalu  dapat didekati secara mudah lewat tiga pandangan yang disebutkan di sini. Pertama, subyek kepercayaan yaitu orang-orang yang percaya. Perhatian utama mereka (Kharijiyyah) adalah pada persoalan: “Siapakah orang yang percaya itu (mu’min)?” dan mereka mendekati secara negative. Yakni mereka memulainya dengan pertanyaan ‘Siapakah orang kafir itu?’. Kedua, obyek kepercayaan. Qur’an dan Hadith sangat menekankan aspek dari peristiwa ini. Persoalannya adalah ‘Apakah obyek-obyek yang harus dipercayai?’ jawaban standar dari pertanyaan ini adalah Tuhan, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, dan hari kebangkitan, yang dijumpai pada Hadith dari Jibril. Rujukan ketiga yakni perbuatan percaya itu sendiri yang sangat dikembangkan dan diuraikan secara teoretik oleh Murji’ah. Masalah sentral dalam pemikiran teologik mereka adalah ‘Bagaimanakah iman tersusun?’. ‘Apakah sifat iman sesungguhnya?’. Rujukan keempat dan kelima yaitu pengakuan lisan dan perbuatan, boleh dikatakan sebagai hasil perkembangan yang wajar dari pembicaraan di antara mereka mengenai masalah yang mendasar ‘Apakah iman itu?’
            Penting untuk diperhatikan bahwa semua pembicaraan pasca-Murji’ah mengenai esensi iman hampir selalu mengikuti pola yang pada mulanya ditemukan oleh Murji’ah. Sesungguhnya bentuk klasik sifat iman yang dibicarakan oleh teolog muslim didasarkan pada pengenalan terhadap tiga factor utama konsep iman, yaitu:
(1). Tasdiq (bi-al-qalb), membenarkan dengan hati.
(2). Iqrar (bi-al-lisan), pengakuan lisan atau pengakuan dengan perkataan melalui mulut.
(3). ‘amal (al-ta’at), perbuatan patuh dan perbuatan baik[2].
           


               


[1] Toshihiko Izutsu, Konsep Kepercayaan dalam Teologi Islam; Analisis Simatik Iman dan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994), hal. 93
[2] Ibid, hal. 106

0 komentar:

Poskan Komentar