Pages

Subscribe:

Rabu, 04 Januari 2012

PENDIDIKAN KARAKTER

URGENSI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI UNTUK MEMBENTUK
KARAKTER MASYARAKAT YANG BERBUDI


            Pada zaman sekarang, banyak masyarakat yang memiliki perilaku dimana perilaku tersebut dapat dikatakan perilaku yang tak berpendidik. Masyarakat yang tak berpendidik itu mengakibatkan timbulnya masalah di kalangan masyarakat yaitu kemiskinan dan kejahatan. Politik yang korupsi serta anak-anak tidak hormat kepada orang tuanya. Hal itu kurang begitu jelas apa yang menjadi penyebabnya. Apakah sistem pemerintah negara yang kurang baik sehingga dapat mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyatnya ataukah masalah tersebut berangkat dari rakyat itu sendiri yang kurang bisa menjaga pribadinya? Mungkin pertanyaan itu dapat dijawab oleh masing-masing individu bangsa.
            Masyarakat yang berbudi pekerti tentu akan menciptakan bangsa yang baik dimana di dalamnya ada orang-orang yang mempunyai semangat tinggi untuk hidup. Pengembangan budi pekerti dirasa cukup sulit. Ajaran budi pekerti di sekolah yang ditempuh  elalui proses yang panjang itu dapat menghasilkan semangat pada diri siswa       untuk melawan tatanan budi. Salah satu penyebabnya yaitu siswa tidak menghiraukan budi pekerti yang diajarkan dalam bentukperintah dan larangan. Hal tersebut dapat terjadi karena siswa sudah tidak percaya lagi kepada norma moral, yang senyatanya belum bisa mengatasi masalah kemasyarakatan yang terus berkembang dan semakin menjadi.
            Budi pekerti seseorang dapat dibentuk dengan melalui kebiasaan hidup orang itu berdasarkan norma masyarakat tempat tinggalnya. Norma masyarakat menjadi acuan bagi aktivitas seseorang termasuk cita-cita hidupnya, usaha untuk mencapai harapannya, dan kemauan untuk bekerjasama dalam masyarakatnya. Kegiatan masyarakat tersebut mengikat sikap dan minatnya untuk mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan tersebut sebagian besar dapat tercapai melalui jalur pendidikan. Pendidikan Budi Pekerti merupakan salah satu sarana untuk mengadakan perubahan secara mendasar. Dengan pendidikan suatu kebodohan akan dibersihkan dan selanjutnya digantikan dengan perilaku bernilai lebih baik, dewasa, dan bertanggung jawab.
Pendidikan Budi Pekerti dapat diterjemahkan sebagai moralitas. Sedangkan moralitas mengandung beberapa makna, diantaranya adat istiadat, sopan santun, dan perilaku. Budi pekerti akan mengidentifikasi perilaku yang positif yang diharapkan dapat terbentuk dalam perilaku, perkataan, pikiran, dan kepribadian peserta didik. Budi pekerti erat kaitannya dengan etika. Etika membahas tentang kesadaran seseorang untuk membuat pertimbangan moral yang rasional mengenai kewajiban untuk memutuskan pilihan yang terbaik dalam menghadapi masalah hidup. Keputusan yang diambil oleh seseorang wajib untuk dipertanggungjawabkan secara moral terhadap diri dan lingkungannya. Pendidikan Budi Pekerti merupakan program pengajaran pembelajaran di sekolah yang bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan watak siswa dengan cara menanamkan nilai-nilai dan keyakinan masyarakat melalui kujujuran, sikap dapat dipercaya, disiplin. Selain itu Pendidikan Budi Pekeri juga dapat dimaknai upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, dan perilaku peserta didik agar mereka mau dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, seimbang (lahir batin, material spiritual, dan individual sosial).[1] Pendidikan Budi Pekerti mempunyai peran untuk membentuk siswa yang mampu membawa bekal masa depannya agar mempunyai hati nurani yng bersih, dapat menjaga kesusilaan dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan sesama manusia. Tujuan pemberian pengajaran budi pekerti, dihubungkan dengan tingkatan perkembangan jiwa yang ada di dalam hidup anak-anak, sejak dini hingga dewasa. Budi pekerti sangat mempengaruhi dalam hal pembentukan kepribadian seseorang.
Seorang pendidik atau guru berperan sebagai model serta menjadi mentor dari peserta didik dalam mewujudkan  nilai-nilai moral pada kehidupan di sekolah. Tanpa adanya guru yang berperan sebagai model maka akan sulit untuk diwujudkannya suatu sekolah yang dapat mewujudkan  nilai-nilai kebudayaan. Namun di sini tidak hanya guru saja yang berperan tetapi seluruh personil dari sekolah itu sendiri.
Masyarakat sekolah harusnya merupakan masyarakat yang bermoral. Apabila kita membicarakan budaya sekolah maka sekolah seharusnya bukan hanya sebagai wadah untuk meningkatkan intelektual tetapi juga sebagai tempat untuk memupuk kejujuran, kebenaran, dan pengabdian kepada manusia. Moral mengimplikasikan adanya kedisiplinan. Pelaksanaan moral dengan tidak ada kedisiplinan sama saja dengan tidak bermoral. Moralitas menuntut keseluruhan dari hidup seseorang karena dia melaksanakan apa yang baik dan menolak apa yang tidak baik.
Pada hakikatnya pembelajaran PKn untuk menyiapkan para siswa kelak sebagai warga masyarakat sekaligus sebagai warga negara yang baik. Pendidikan dasar yang tercantum pada mata pelajaran PKn mengandung komitmen utama dalam pencapaian dimensi tujuan pengembangan kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Jika mencermati fakta dan realitas yang terjadi, sebenarnya sedikit pelajar yang bertindak amoral asusila dibandingkan dengan jumlah pelajar secara keseluruhan. Hal demikian dapat terjadi karena kurangnya perhatian an kasih sayang keluarga, kurang kondusifnya lingkungan masyarakat sebagai tempat bersosialisasi, kurangnya keteladanan dari orang tua, tokoh masyarakat, dan para pemimpin.
Kebudayaan merupakan merupakan suatu arena pergaulan antarmanusia yang bekerja. Tanpa adanya bekerja terutama bekerja sama mustahil ditumbuhkan suatu masyarakat yang berbudaya. Kesadaran untuk berkarya menuntut peserta didik untuk menghargai akan artinya ketrampilan dalam kebudayaan. Nilai-nilai moral yang mengalami suatu konflik justru memperlihatkan bahwa adanya suatu perkembangan kebudayaan. Karena konflik akan selalu muncul apabila terjadi interaksi antar manusia. Konflik yang terjadi hendaknya dipecahkan dan dicari jalan keluarnya melalui dialog. Di dalam dialog membutuhkan situaasi yang demokratis dan membutuhkan pertimbangan intelektual yang baik. Dengan demikian, refleksi moral merupakan syarat dari suatu kehidupan yang demokratis.
Pendidikan Budi Pekerti bukan hanya tanggung jawab sekolah tetapi juga tanggung jawab keluarga dan lingkungan sosial. Jadi misalnya sekolah mengadakan pendidikan budi pekerti tetapi lingkungan masyarakatnya tidak atau kurang baik, maka pendidikan budi pekerti di sekolah tidak akan banyak artinya. Dengan memperkaya dimensi nilai, moral, dan norma pada aktivitas pendidikan di sekolah, akan memberi pegangan hidup yang kokoh bagi anak-anak dalam menghadapi perubahan sosial. Kematangan secara moral akan menjadikan seorang anak yang mampu menentukan sikap terhadap substansi nilai dan norma baru yang muncul dalam proses perubahan sosial yang sangat cepat ini. Selain itu bekal pendidikan budi pekerti secara memadai akan memperkuat konstruk moralitas peserta didik sehingga mereka tidak mudah goyah ketika menghadapi berbagai macam godaan dan pengaruh negatif di sekolah.


[1] Dra. Nurul Zuriah, M.Si., Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 20

0 komentar:

Poskan Komentar