Pages

Subscribe:

Rabu, 04 Januari 2012

ETIKA BERTAMU


             ETIKA BERTAMU
Setiap manusia pasti pernah bertamu atau paling tidak menerima bertamu dirumahnya, entah itu dari kalangan kerabatnya, tetangga, teman sejawat, atau yang lainnya. Etika bertamu merupakan salah satu cara yang mendapatkan perhatian khusus dalam ajaran agama Islam. Diantara tata cara bertamu tersebut adalah:
A.    Etika yang harus diperhatikan oleh penerima tamu
a)      Niat yang bersih
Dalam buku terjemahan Ensiklopedia Etika Islam halaman 737 dijelaskan bahwasanya Jika seseorang akan menerima tamu, sebaiknya dia berniat terlebih dahulu, bahwa apa yang dia lakukan seperti menyambut tamu atau menyiapkan hidangan bagi tamunya, hanya dia tujukan untuk mendapatkan ridha Allah. Begitu halnya dengan orang yang akan bertamu harus berniat untuk mendapatkan ridha Allah pada saat memenuhi undangan temannya atau hanya sekedar ingin bersilaturahmi dengan kawannya. Dengan demikin, baik orang yang bertamu maupun yang menerima tamu akan mendapatkan  pahala dari Allah, apabila dia mengawalinya dengan niat yang telah disebutkan di atas.
b)     Menyambut tamu dengan baik
Dalam buku Ensiklopedia Etika Islam halaman 738 menguraikan tata cara menyambut tamunya dengan senyuman, wajah yang ceria, dan ungkapan-ungkapan yang santun, dimana ini akan sangat menyejukan hati tamu yang akan hadir ditempatnya dan juga akan membuat tamu tersebut akan memiliki tempat tersendiri dihati tuan rumah
Dalam buku tersebut juga dijelaskan jika tuan rumah menyambut kedatangan tamunya dengan wajah maam dan juga sikap yang tak ramahmaka akan membuat tamunya tersakiti dan enggan berkunjung lagi kerumahnya, bahkan tamu tersebut ingin cepat-cepat pulang walaupun tuan rumah sudah memenuhi segala hal yang berkaitan dengan hak-hak tamunya.


Penulis juga mengutip sebuah syair yang bunyinya:
Penghargaan bagi seorang tamu,
Bukan dengan banyaknya orang yang menyambut…
Akan tetapi, keramahan dan wajah yang berseri,
Itu merupakan penghargaan bagi tamu…
c)      Mempersilahkan tamu untuk duduk
Selayaknya mempersilahkan tamu untuk duduk ditempat yang nyaman ditampatdudukyangtidaktarlalutransparanatautempatyangberaromasedap merupakan suatu penghormatan bagi tamu.
d)     Menghargai tamu
Tuan rumah seharusnya bersegera dalam memenuhi hak-hak tamunya, dengan menyuguhkan hidangan ala kadarnya. Dan jangan sampai tamu keburu pamit. Dalam Al-qur’an telah memberikan tuntunan mengenai hal ini, seperti dalam Q.S Adz-Dzariyat : 24-27
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, Kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan."
e)      Menyuguhkan makanan
Dalam hal ini  merupakan etikan yang ditunjukan yang ditunjukan oleh Al-Qur’an dalam syrat adz-dzariyat yang berbunyi, Faqqoribhu Ilayhim, artinya: lalu dihidangkan kepada mereka.
f)       Tidak memaksakan diri
Sebagai tuan rumah seharusnya tidak terlalu memaksakan diri dalam melayani tamunya sehingga dia memikul beban berat hanya karena ingin menghormati tamunya.akan tetapi, cukup bagi tuan rumah tersebut menghidangkan makanan yang layak sesuai dengan kemampuannya, tanpa harus mengurangi rasa hormat pada tamunya.

g)      Memenuhi hak tamu
Menurut sunnah, memberikan pelayanan yang terbaik bagi tamu itu sehari semalam, dan bertamu itu paling maksimal selama tiga hari tiga malam. Tidak lazim bagi seseorang untuk bertamu lebih dari tiga hari, akan tetapi pelayanan yang diberikan diatas tiga hari dianggap sedekah.
h)     Mengantar tamu samoai pintu
Pada saat tamu ingin berpamitan, maka tuan rumah berkewajiban mengantarkan tramunya sampai pintu rumah, karena hal itu merupakan dari sikap hormat kepada tamu. Dan selayaknya sebagai tuan rumah tidak menutup pintunya sampai tamunya benar-benar pergi dan masuk kedalam kendaraannya.

B. Etika bagi orang yang bertamu
Dalam buku ini juga dijelaskan mengenai sikap atau etika bagi orang yang bertamu, yaitu:
1. Memenuhi Undangan Bila Diundang
Dalam buku tersebut juga dijelaskan jika diundang, maka seorang muslim wajib memenuhi undangan dari saudaranya itu. Penulis memberikan contoh Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah saw, Hak seorang muslim atas saudaranya sesama muslim ada enam:....apabila engkau diundang, maka penuhilah undangan itu.....oleh karena itu, wajib memenuhi undangan tersebut, selam tidak mengandung unsur-unsur kemungkaran yang tidak mampu dia ubah,atau dia mengetahui bahwa harta si pengundang mengandung hal-hal yang haram.
2.Beretika dengan Etika Meminta Izin dan Berkunjung
Penjelasan tentang etika meminta izin dan berkunjung dijelaskan secara gamblang pada bab penjelasan pembahasan lain dalam buku ini. Seorang yang bertamu, harus memilih waktu yang tepat untuk bertamu, mengetuk pintu degan santun, dan tidak menghadap pintu secara langsung (tidak berdiri tepat di depan pintu atau berdiri agak menyamping). Kemudian mengucapkan  salam dan bersikap yang wajar serta menahan pandangan dan tidak berteriak. Mengambil tempat duduk yang sesuai dengan arahan tuan rumah setalah dia dipersilahkan.
Seorang yang bertamu hendaknya tidak banyak melihat keadaan di sekitar dan tidak bersikap seperti memata-matai tuan rumahnya. Tidak memanjang-manjangkan  waktu berkunjung diluar kepentingan. Apabila akan pulang, seorang tamu harus pamit terlebih dahulu kepada tuan rumahnya, dia tidak pergi kecuali setelah mendapatkan izin dari tuan rumah. Masih banyak etika bertamu, untuk lebih jelasnya, silahkan lihat bab meminta izin dan berkunjung.
3. Berterima Kasih Terhadap Tuan Rumah
Seorang tamu, wajib berterima kasih kepada tuan rumah atas penerimaan dan sambutan dari tuan rumah.Itulah yang diajarkan oleh islam melalui sabda Rasulullah saw,Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, tidak akan berterima kasih kepada Allah. Rasulullah saw juga pernah mendoakan orang yang menghormatinya, dia berkata kepada Sa’ad bin ‘Ubadah setelah dia menyediakan makanan untuk dia. Orang –orang yang berpuasa telah berbuka di tempatmu, orang –orang baik telah menikmati hidangan dan para malaikat bershalawat kepadamu. Rasulullah juga mendoakan Abdullah bin Basr setelah dia menghidangkan makanan untuk dia,” Ya Allah Berkahilah segala yang engkau karuniakan untuk mereka, ampunilah dan sayangilah mereka.”
4. Memperhatikan Etika Makan dan Minum
Hal itu dijelaskan pada bab lain dalam buku ini. Setiap orang harus memperhatikan etika-etika itu ketika mereka duduk untuk makan bersama tuan rumah. Hal itu bukan sekedar kewajiban, akan tetapi untuk kebaikan bagi  diri mereka sendiri dan kebaikan bagi saudaranya, di samping untuk memperoleh keberkahan bagi kedua belah pihak. Di samping itu, untuk menghilangkan rasa tidak betah bagi tuan rumah terhadap tamunya.
5. Tidak Menjadi Beban bagi Tuan Rumah
Jika seorang tamu mendapati tuan rumah dalam keadaan berat atau sulit untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap tamu maka hendaknya dia tidak berlam-lama yang menjadikan tuan rumah merasa terbebani atau sempit. Seoarng tamu agar tidak memaksa bertamu, yang mungkin akan membuatnya membicarakan aib tamu itu karena sikap buruknya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,…….dan tidak halal baginya untuk menetap sehingga menjadi beban baginya (tuan rumah).                 


0 komentar:

Poskan Komentar